Before U Read and Get Information From Me

Please... Give Me a Gift.
No Difficult.
No Expensive.
No More.

Give Me a Gift; "The Fatihah 4"
Okeyy.

Kamis, 28 Oktober 2010

The Paper of Moety@; TINJAUAN STRATEGI MANAJEMEN ASET & LIABILITAS

 TINJAUAN STRATEGI MANAJEMEN ASET & LIABILITAS

Fokus manajemen aset dan liabilitas adalah mengkoodinasikan portofolio aset/liabilitas bank guna memaksimalkan profit bagi bank dan hasil yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam jangka panjang dengan memperhatikan kebutuhan likuiditas dan prinsip kehati-hatian. Strategi manajemen aset dan liabilitas meliputi koordinasi karakteristik keuntungan (return) dan resiko atas portofolio aset dan liabilitas bank. Setiap keputusan investasi yang dilakukan oleh bank memerlukan keputusan simultan tentang bagaimana mendanai investasi tersebut. Risiko pada bank tidak hanya tergantung pada karakteristik aset, melainkan juga pada karakteristik liabilitas yang digunakan untuk mendanai aset tersebut.
Bank adalah lembaga intermediasi antara para penabung dan investor. Tabungan hanya dapat berguna apabila diinvestasikan, sementara para penabung tidak dapat diharapkan untuk sanggup melakukannya sendiri dengan terampil dan sukses. Nasabah mau menyimpan dananya  bank karena ia percaya bahwa bank dapat memilih alternatif investasi yang menarik.
Proses pemilihan investasi itu harus dilakukan dengan seksama, karena kesalahan dalam pemilihan investasi akan mengakibatkan bank tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada para nasabahnya. Manajemen tidak bisa semaunya menarik nasabah untuk menyimpan uangnya di bank, tanpa adanya keyakinan bahwa dana itu dapat diinvestasikan secara menguntungkan dan dapat dikembalikan ketika dana itu sewaktu-waktu ditarik oleh nasabah atau dana tersebut telah jatuh tempo. Oleh Karena itu manajemen juga harus secara simultan mempertimbangkan berbagi risiko yang akan berpengaruh pada perubahan tingkat laba yang diperoleh. Hal ini juga meliputi penilaian terhadap budget dan rencana pendapatan, penilaian kinerja investasi perusahaan masa lalu, memantau distribusi aset dan liabilitas bergantung pada sifat dari sumber-sumber dana dan sifat investasi atas dana-dana tersebut.
Strategi manajemen modern meliputi pengawasan atas portofolio, baik aset maupun liabilitas. Pada kebiasaan sebelumnya, bank-bank menekankan pada pengawasan portofolio aset, menggunakan dana simpanan (deposit) untuk membangun portofolio aset yang sesuai dengan portofolio lliabilitas yang bersangkutan. Sejak 1960-an, penggunaan teknik manajemen aset dan liabilitas di kalangan perbankan konvensional semakin pesat sejalan dengan kian agresif dan ekspansifnya bank-bank menggunakan pinjaman jangka pendek untuk mendukung aset. Meningkatnya penggunaan manajemen liabilitas mendorong pengembangan strategi manajemen interest margin, yang memungkinkan bank mengambil keuntungan dari pergerakan tingkat bunga. Meluasnya penggunaan teknik manajemen liabilitas, di samping meningkatkan potensi keuntungan juga meningkatkan risiko dan kompleksitas pengelolaan bank.
Bank dapat memperoleh keuntungan yang tinggi bila mereka mengambil bunga yang tinggi dan menerima risiko likuiditas. Secara histories penerimaan bank dihubungkan dengan tingkat bunga dan risiko likuiditas, karena bank mendanai pinjamannya dengan sumber-sumber dana yang tidak sesuai (mismatch) dengan jangka waktu pinjaman. Dalam prakteknya sebagian besar bank menyesuaikan strategi pendanaan mereka melalui harapan-harapan siklus tingkat bunga untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Setiap keputusan investasi pada aset secara simultan memerlukan keputusan tentang pendanaan. Keputusan-keputusan tersebut harus memperhitungkan baik risiko aset maupun risiko pendanaan.
Dalam risiko keputusan atas aset dan liabilitas terdapat saling ketergantungan. Pendanaan atas aset akan mempengaruhi risiko pada bank. Karakteristik aset harus dipertimbangkan kesesuaiannya dengan sumber dananya. Oleh karenanya keputusan yang simultan atas investasi adalah aspek yang penting dalam evaluasi risiko.
Secara tradisional bank menghubungkan likuiditasnya dengan portofolio asetnya. Portofolio aset dibangun sehingga aliran keluarnya dana-dana dapat dijamin dengan likuiditas aset. Dalam dekade 1960-an dan 1970-an, manajemen bank menggeser likuiditasnya dengan lebih menekankan pada portofolio liabilitasnya daripada melikuidisi aset. Hal ini sejalan dengan makin agresifnya bank melakukan ekspansi pinjaman dan mendanai pinjamannya dengan dana pinjaman (borrowed funds), bukan dengan simpanan (deposits). Bank meminjam dana dari pasar uang.
Manajemen Aset
Manajemen aset, karena ia menyangkut likuiditas, memerlukan pembangunan aset-aset sedemikian rupa sehingga aliran keluar dana (outflow of funds) dapat diakomodasikan tanpa membuat penyesuaian dalam liabilitas. Investasi dalam aset  terkendala oleh kemampuan untuk mengubah aset menjadi dana yang dapat dipergunakan.
Likuiditas suatu aset berasal dari salah satu dari dua sumber, yaitu daya cair dari aset itu sendii (self contained liquidity) dan daya jualnya (marketability). Self contained liquidity menggambarkan tanggal jatuh temponya aset, sedang marketability adalah kemampuan untuk menukarkan aset menjadi uang melalui penjualan aset tersebut kepada investor lain di secondary market. Dalam kerangka ini maka bisa saja treasury bond yang berjangka 20 tahun dipandang lebih likuid daripada pinjaman berjangka 90 hari, karena walaupun jangka waktu bond jauh lebih lama daripada pinjaman, bank dapat memilih menjual bond di secondary market. Jadi likuiditas aset tergantung pada tingkat kemudahannya untuk dikonversikan menjadi kas guna memperoleh dana yang dibutuhkan.
Ditinjau dari segi perencanaan likuiditas, adalah penting untuk menyadari bahwa tidak semua aset dalam segala kategori adalah likuid dalam arti bahwa bank dapat dengan leluasa menggunakan aset tersebut untuk memenuhi kebutuhan dananya. Misalnya saldo pada bank koresponden bisa likuid, tetapi juga bisa tidak likuid bila saldo tersebut merupakan saldo minimum yang harus dipelihara untuk mengkompensasi layanan yang diberikan oleh bank koresponden tersebut. Jadi saldo yang likuid adalah saldo di atas saldo minimum yang harus dipenuhi seperti sipersyaratkan oleh bank koresponden.
Proses untuk menjamin likuiditas melalui konstruksi aset bukan tanpa biaya. Pada umumnya pinjaman mempunyai yield yang tinggi, tetapi merupakan aset berbunga yang paling tidak likuid. Makin tinggi derajat likuiditas suatu portofolio aset yang tersedia, makin rendah yield yang dihasilkan. Untuk memastikan likuiditas, bank terpaksa mengorbankan profitabilitas.
Manajemen liabilitas
Untuk menilai dampak manajemen liabilitas pada profitabilitas bank, selisih antara meningkatnya pendapatan pada portofolio aset dengan peningkatan biaya dana pinjaman dari pasar terbuka harus dianalisis. Meningkatnya pendapatan dari portofolio aset terjadi karena meningkatnya konsentrasi aset pada pinjaman dengan yield tinggi. Meningkatnya biaya untuk menjamin likuiditas melalui pinjaman dana diakibatkan oleh bunga pasar yang harus dibayar atas dana tersebut. Spread antara meningkatnya pendapatan dari aset di atas liabilitas merupakan ukuran perubahan dalam interest margin.
Suatu bank yang memastikan dana dengan pinjaman harus membayar tingkat bunga pasar. Biaya dana-dana ini lebih volatile daripada sumber dana dari deposit, yang secara potensial dapat menghasilkan peningkatan variasi dalam keuntungan bank. Dampak pemakaian manajemen liabilitas terhadap keuntungan bank tergantung bank pada karakteristik aset yang didanai dengan dana-dana pinjaman. Bila bank menggunakan dana-dana pinjaman untuk mendukung pinjaman jangka panjang dengan tingkat bunga tetap, maka keuntungan bank akan bervariasi sesuai dengan variasi yang terdapat pada tingkat bunga pasar. Bila bank menggunakan dana pinjaman untuk mendanai aset yang pendapatannya juga berfluktuasi sesuai dengan tingkat bunga pasar, maka tidak berdampak pada keuntungan.
Meningkatnya kepercayaan  pada manajemen liabilitas telah mengurangi tekanan likuiditas dan memungkinkan bank untuk menggunakan dana-dana dengan persentase yang lebih besar untuk aset mereka dengan yield yang lebih tinggi. Pada saat yang sama meningkatnya penggunaan dana-dana pinjaman telah berkomplikasi  pada proses pengelolaan portofolio bank. Untuk memastikan profitabilitas dan meminimalkan risiko, bank harus secara simultan mengelola jangka waktu (maturity), tingkat pendapatan/biaya (rate) dan karakteristik volume dalam portofolio aset dan liabilitas mereka. Hal ini mendorong pengembangan strategi pengelolaan interest margin, yang didesain untuk mnegkoordinasikan maturity, rate dan karakteristik volume dari portofolio aset dan liabilitas.
Teknik Manajemen Margin
Interest margin dinyatakan dengan jumlah absolute (dalam rupiah), yaitu selisih antara pendapatan bunga pada earning asset dengan pengeluaran bunga pada liabilitas. Interest margin juga dinyatakan dalam persentase dari earning assets untuk mengukur net yield pada portofolio of earning assets.
Spread adalah selisih antara persentase tingkat bunga pada aset dengan persentase tingkat bunga pada liabilitas. Konsep tentang spread dapat digunakan untuk semua portofolio aset atau liabilitas, atau digunakan untuk  mengevaluasi profitabilitas dari masing-masing aset secara individual dibanding dengan dana-dana yang mendukung aset yang bersangkutan. Konsep spread dipakai secara ekstensif dalam menetapkan harga pinjaman.
Konsep interest margin dan spread merupakan ukuran bagi pernyataan bagi pernyataan laba/rugi (income statement), artinya ukuran langsung diperoleh dari income statement. Konsep ini juga dipakai pada perencanaan yaitu spread diestimasikan dengan prediksi pendapatan (return) pada aset dan biaya dana yang diharapkan. Variasi dalam expected spread dapat muncul ketika terjadi ketidaksesuaian (mismatch) pendanaan.
Konsep kunci lainnya yang dipakai dalam analisis interest margin adalah gap, di mana hal ini adalah konsep neraca. Gap mengukur ketidakseimbangan antara variabel dan fixed rate aset dan liabilitas. Gap management dipakai untuk meningkatkan interest margin di atas siklus tingkat bunga. Setiap periode diukur dengan jumlah rupiah di mana variabel rate (interest sensitive) assets/melebihi variabel rate liabilities. Bila bank memiliki positive gap, artinya bank mendanai sebagian variabel rate assets-nya dengan fixe rate liabilities.
Untuk meningkatkan spread, bank harus memilih komposisi portofolio aset dan liabilitasnya sesuai dengan prediksi siklus pergerakan tingkat bunga. Singkatnya, bank harus menerima risiko yang lebih besar untuk mencapai tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Bila portofolio disesuaikan untuk memaksimumkan keuntungan dalam lingkungan tingkat bunga yang tersedia dan manajemen salah dalam menaksir lingkungan tingkat bunga itu, maka bank dapat mengalami penurunan spread, atau mengalami negative spread dan merugi. Teknik manajemen margin menghendaki agar manajemen berhati-hati dalam menaksir pertukaran risiko dan keuntungan yang terkait dengan penyesuaian portofolio. Makin agresif manajemen mencoba meraih laba dari pergerakan tingkat bunga, makin besar risikonya.
Ada tiga karakteristik portofolio aset dan liabilitas yang harus dikelola secara simultan untuk mencapai sukses dalam mengelola margin dan spread, yaitu komposisi jangka waktu (maturity), struktur tingkat bunga dan risiko kegagalan (default risk). Pengelolaan simultan atas karakteristik itu memerlukan seni penyeimbangan yang halus, di mana manajemen berusaha mengkoordinasikan arus dana-dana masuk dan keluar dari pool  dana-dana bank.
Komposisi jatuh tempo dapat match atau tidak. Bank dapat mengunci spread antara pendapatan atas aset dan liabilitasnya bila komposisinya matched. Bila komposisinya mismatch maka bank tidak dapat mengunci spread-nya. Sebagai kelengkapan dari komposisi jangka waktu, manajemen margin yang efektif memerlukan koordinasi dengan struktur tingkat bunga. Struktur tingkat bunga merujuk kepada sensitifitas tingkat bunga pada aset dan liabilitas. Kenyataannya struktur  tingkat bunga dan struktur jangka waktu berinteraksi untuk menentukan aspek-aspek kritis dari keuntungan bagi bank. Sensitifitas tingkat bunga bergantung pada pendapatan bunga yang diterima atas aset ataupun bunga yang dibayar atas liabilitas dengan perubahan tingkat bunga pasar dan pada kecepatan penyesuaian dengan perubahan tingkat bunga pasar tersebut.
Karakteristik lain dari portofolio aset dan liabilitas yang harus dipertimbangkan demi efektifitas pengelolaan margin adalah risiko kegagalan (default rate). Risiko kegagalan pada bank atas portofolio aset melebihi risiko kegagalan pada depositor untuk liabilitasnya. Porsi spread yang dibuat oleh bank adalah kompensasi bagi pengumpulan risiko dan evaluasi kredit. Depositor bersedia menerima bunga yang lebih rendah atas dana yang mereka pinjamkan kepada bank karena mereka tidak dapat mengevalusi kelayakan kredit dari peminjam akhir dari dana-dana dalam tingkah laku biaya yang efektif.
Bank dapat menyesuaikan spread melalui pengelolaan risiko kegagalan dalam portofolio kredit dan investasinya. Harapan spread yang lebih besar dapat dicapai dengan memberikan kredit berisiko tinggi dan surat berharga yang berkelas rendah. Manajemen bank harus membuat taksiran yang prudent dalam pengambilan strategi pertukaran risiko dan keuntungan. Peningkatan spread melalui pengambilan risiko menyebabkan masalah terutama pada saat ekonomi sedang memburuk.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar