TINJAUAN STRATEGI MANAJEMEN ASET & LIABILITAS
Fokus manajemen aset dan liabilitas adalah mengkoodinasikan portofolio aset/liabilitas bank guna memaksimalkan profit bagi bank dan hasil yang dibagikan kepada para pemegang saham dalam jangka panjang dengan memperhatikan kebutuhan likuiditas dan prinsip kehati-hatian. Strategi manajemen aset dan liabilitas meliputi koordinasi karakteristik keuntungan (return) dan resiko atas portofolio aset dan liabilitas bank. Setiap keputusan investasi yang dilakukan oleh bank memerlukan keputusan simultan tentang bagaimana mendanai investasi tersebut. Risiko pada bank tidak hanya tergantung pada karakteristik aset, melainkan juga pada karakteristik liabilitas yang digunakan untuk mendanai aset tersebut.
Bank adalah lembaga intermediasi antara para penabung dan investor. Tabungan hanya dapat berguna apabila diinvestasikan, sementara para penabung tidak dapat diharapkan untuk sanggup melakukannya sendiri dengan terampil dan sukses. Nasabah mau menyimpan dananya bank karena ia percaya bahwa bank dapat memilih alternatif investasi yang menarik.
Proses pemilihan investasi itu harus dilakukan dengan seksama, karena kesalahan dalam pemilihan investasi akan mengakibatkan bank tidak dapat memenuhi kewajibannya kepada para nasabahnya. Manajemen tidak bisa semaunya menarik nasabah untuk menyimpan uangnya di bank, tanpa adanya keyakinan bahwa dana itu dapat diinvestasikan secara menguntungkan dan dapat dikembalikan ketika dana itu sewaktu-waktu ditarik oleh nasabah atau dana tersebut telah jatuh tempo. Oleh Karena itu manajemen juga harus secara simultan mempertimbangkan berbagi risiko yang akan berpengaruh pada perubahan tingkat laba yang diperoleh. Hal ini juga meliputi penilaian terhadap budget dan rencana pendapatan, penilaian kinerja investasi perusahaan masa lalu, memantau distribusi aset dan liabilitas bergantung pada sifat dari sumber-sumber dana dan sifat investasi atas dana-dana tersebut.
Strategi manajemen modern meliputi pengawasan atas portofolio, baik aset maupun liabilitas. Pada kebiasaan sebelumnya, bank-bank menekankan pada pengawasan portofolio aset, menggunakan dana simpanan (deposit) untuk membangun portofolio aset yang sesuai dengan portofolio lliabilitas yang bersangkutan. Sejak 1960-an, penggunaan teknik manajemen aset dan liabilitas di kalangan perbankan konvensional semakin pesat sejalan dengan kian agresif dan ekspansifnya bank-bank menggunakan pinjaman jangka pendek untuk mendukung aset. Meningkatnya penggunaan manajemen liabilitas mendorong pengembangan strategi manajemen interest margin, yang memungkinkan bank mengambil keuntungan dari pergerakan tingkat bunga. Meluasnya penggunaan teknik manajemen liabilitas, di samping meningkatkan potensi keuntungan juga meningkatkan risiko dan kompleksitas pengelolaan bank.
Bank dapat memperoleh keuntungan yang tinggi bila mereka mengambil bunga yang tinggi dan menerima risiko likuiditas. Secara histories penerimaan bank dihubungkan dengan tingkat bunga dan risiko likuiditas, karena bank mendanai pinjamannya dengan sumber-sumber dana yang tidak sesuai (mismatch) dengan jangka waktu pinjaman. Dalam prakteknya sebagian besar bank menyesuaikan strategi pendanaan mereka melalui harapan-harapan siklus tingkat bunga untuk memperoleh keuntungan yang lebih besar.
Setiap keputusan investasi pada aset secara simultan memerlukan keputusan tentang pendanaan. Keputusan-keputusan tersebut harus memperhitungkan baik risiko aset maupun risiko pendanaan.
Dalam risiko keputusan atas aset dan liabilitas terdapat saling ketergantungan. Pendanaan atas aset akan mempengaruhi risiko pada bank. Karakteristik aset harus dipertimbangkan kesesuaiannya dengan sumber dananya. Oleh karenanya keputusan yang simultan atas investasi adalah aspek yang penting dalam evaluasi risiko.
Secara tradisional bank menghubungkan likuiditasnya dengan portofolio asetnya. Portofolio aset dibangun sehingga aliran keluarnya dana-dana dapat dijamin dengan likuiditas aset. Dalam dekade 1960-an dan 1970-an, manajemen bank menggeser likuiditasnya dengan lebih menekankan pada portofolio liabilitasnya daripada melikuidisi aset. Hal ini sejalan dengan makin agresifnya bank melakukan ekspansi pinjaman dan mendanai pinjamannya dengan dana pinjaman (borrowed funds), bukan dengan simpanan (deposits). Bank meminjam dana dari pasar uang.
Manajemen Aset
Manajemen aset, karena ia menyangkut likuiditas, memerlukan pembangunan aset-aset sedemikian rupa sehingga aliran keluar dana (outflow of funds) dapat diakomodasikan tanpa membuat penyesuaian dalam liabilitas. Investasi dalam aset terkendala oleh kemampuan untuk mengubah aset menjadi dana yang dapat dipergunakan.
Likuiditas suatu aset berasal dari salah satu dari dua sumber, yaitu daya cair dari aset itu sendii (self contained liquidity) dan daya jualnya (marketability). Self contained liquidity menggambarkan tanggal jatuh temponya aset, sedang marketability adalah kemampuan untuk menukarkan aset menjadi uang melalui penjualan aset tersebut kepada investor lain di secondary market. Dalam kerangka ini maka bisa saja treasury bond yang berjangka 20 tahun dipandang lebih likuid daripada pinjaman berjangka 90 hari, karena walaupun jangka waktu bond jauh lebih lama daripada pinjaman, bank dapat memilih menjual bond di secondary market. Jadi likuiditas aset tergantung pada tingkat kemudahannya untuk dikonversikan menjadi kas guna memperoleh dana yang dibutuhkan.
Ditinjau dari segi perencanaan likuiditas, adalah penting untuk menyadari bahwa tidak semua aset dalam segala kategori adalah likuid dalam arti bahwa bank dapat dengan leluasa menggunakan aset tersebut untuk memenuhi kebutuhan dananya. Misalnya saldo pada bank koresponden bisa likuid, tetapi juga bisa tidak likuid bila saldo tersebut merupakan saldo minimum yang harus dipelihara untuk mengkompensasi layanan yang diberikan oleh bank koresponden tersebut. Jadi saldo yang likuid adalah saldo di atas saldo minimum yang harus dipenuhi seperti sipersyaratkan oleh bank koresponden.
Proses untuk menjamin likuiditas melalui konstruksi aset bukan tanpa biaya. Pada umumnya pinjaman mempunyai yield yang tinggi, tetapi merupakan aset berbunga yang paling tidak likuid. Makin tinggi derajat likuiditas suatu portofolio aset yang tersedia, makin rendah yield yang dihasilkan. Untuk memastikan likuiditas, bank terpaksa mengorbankan profitabilitas.
Manajemen liabilitas
Untuk menilai dampak manajemen liabilitas pada profitabilitas bank, selisih antara meningkatnya pendapatan pada portofolio aset dengan peningkatan biaya dana pinjaman dari pasar terbuka harus dianalisis. Meningkatnya pendapatan dari portofolio aset terjadi karena meningkatnya konsentrasi aset pada pinjaman dengan yield tinggi. Meningkatnya biaya untuk menjamin likuiditas melalui pinjaman dana diakibatkan oleh bunga pasar yang harus dibayar atas dana tersebut. Spread antara meningkatnya pendapatan dari aset di atas liabilitas merupakan ukuran perubahan dalam interest margin.
Suatu bank yang memastikan dana dengan pinjaman harus membayar tingkat bunga pasar. Biaya dana-dana ini lebih volatile daripada sumber dana dari deposit, yang secara potensial dapat menghasilkan peningkatan variasi dalam keuntungan bank. Dampak pemakaian manajemen liabilitas terhadap keuntungan bank tergantung bank pada karakteristik aset yang didanai dengan dana-dana pinjaman. Bila bank menggunakan dana-dana pinjaman untuk mendukung pinjaman jangka panjang dengan tingkat bunga tetap, maka keuntungan bank akan bervariasi sesuai dengan variasi yang terdapat pada tingkat bunga pasar. Bila bank menggunakan dana pinjaman untuk mendanai aset yang pendapatannya juga berfluktuasi sesuai dengan tingkat bunga pasar, maka tidak berdampak pada keuntungan.
Meningkatnya kepercayaan pada manajemen liabilitas telah mengurangi tekanan likuiditas dan memungkinkan bank untuk menggunakan dana-dana dengan persentase yang lebih besar untuk aset mereka dengan yield yang lebih tinggi. Pada saat yang sama meningkatnya penggunaan dana-dana pinjaman telah berkomplikasi pada proses pengelolaan portofolio bank. Untuk memastikan profitabilitas dan meminimalkan risiko, bank harus secara simultan mengelola jangka waktu (maturity), tingkat pendapatan/biaya (rate) dan karakteristik volume dalam portofolio aset dan liabilitas mereka. Hal ini mendorong pengembangan strategi pengelolaan interest margin, yang didesain untuk mnegkoordinasikan maturity, rate dan karakteristik volume dari portofolio aset dan liabilitas.
Teknik Manajemen Margin
Interest margin dinyatakan dengan jumlah absolute (dalam rupiah), yaitu selisih antara pendapatan bunga pada earning asset dengan pengeluaran bunga pada liabilitas. Interest margin juga dinyatakan dalam persentase dari earning assets untuk mengukur net yield pada portofolio of earning assets.
Spread adalah selisih antara persentase tingkat bunga pada aset dengan persentase tingkat bunga pada liabilitas. Konsep tentang spread dapat digunakan untuk semua portofolio aset atau liabilitas, atau digunakan untuk mengevaluasi profitabilitas dari masing-masing aset secara individual dibanding dengan dana-dana yang mendukung aset yang bersangkutan. Konsep spread dipakai secara ekstensif dalam menetapkan harga pinjaman.
Konsep interest margin dan spread merupakan ukuran bagi pernyataan bagi pernyataan laba/rugi (income statement), artinya ukuran langsung diperoleh dari income statement. Konsep ini juga dipakai pada perencanaan yaitu spread diestimasikan dengan prediksi pendapatan (return) pada aset dan biaya dana yang diharapkan. Variasi dalam expected spread dapat muncul ketika terjadi ketidaksesuaian (mismatch) pendanaan.
Konsep kunci lainnya yang dipakai dalam analisis interest margin adalah gap, di mana hal ini adalah konsep neraca. Gap mengukur ketidakseimbangan antara variabel dan fixed rate aset dan liabilitas. Gap management dipakai untuk meningkatkan interest margin di atas siklus tingkat bunga. Setiap periode diukur dengan jumlah rupiah di mana variabel rate (interest sensitive) assets/melebihi variabel rate liabilities. Bila bank memiliki positive gap, artinya bank mendanai sebagian variabel rate assets-nya dengan fixe rate liabilities.
Untuk meningkatkan spread, bank harus memilih komposisi portofolio aset dan liabilitasnya sesuai dengan prediksi siklus pergerakan tingkat bunga. Singkatnya, bank harus menerima risiko yang lebih besar untuk mencapai tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Bila portofolio disesuaikan untuk memaksimumkan keuntungan dalam lingkungan tingkat bunga yang tersedia dan manajemen salah dalam menaksir lingkungan tingkat bunga itu, maka bank dapat mengalami penurunan spread, atau mengalami negative spread dan merugi. Teknik manajemen margin menghendaki agar manajemen berhati-hati dalam menaksir pertukaran risiko dan keuntungan yang terkait dengan penyesuaian portofolio. Makin agresif manajemen mencoba meraih laba dari pergerakan tingkat bunga, makin besar risikonya.
Ada tiga karakteristik portofolio aset dan liabilitas yang harus dikelola secara simultan untuk mencapai sukses dalam mengelola margin dan spread, yaitu komposisi jangka waktu (maturity), struktur tingkat bunga dan risiko kegagalan (default risk). Pengelolaan simultan atas karakteristik itu memerlukan seni penyeimbangan yang halus, di mana manajemen berusaha mengkoordinasikan arus dana-dana masuk dan keluar dari pool dana-dana bank.
Komposisi jatuh tempo dapat match atau tidak. Bank dapat mengunci spread antara pendapatan atas aset dan liabilitasnya bila komposisinya matched. Bila komposisinya mismatch maka bank tidak dapat mengunci spread-nya. Sebagai kelengkapan dari komposisi jangka waktu, manajemen margin yang efektif memerlukan koordinasi dengan struktur tingkat bunga. Struktur tingkat bunga merujuk kepada sensitifitas tingkat bunga pada aset dan liabilitas. Kenyataannya struktur tingkat bunga dan struktur jangka waktu berinteraksi untuk menentukan aspek-aspek kritis dari keuntungan bagi bank. Sensitifitas tingkat bunga bergantung pada pendapatan bunga yang diterima atas aset ataupun bunga yang dibayar atas liabilitas dengan perubahan tingkat bunga pasar dan pada kecepatan penyesuaian dengan perubahan tingkat bunga pasar tersebut.
Karakteristik lain dari portofolio aset dan liabilitas yang harus dipertimbangkan demi efektifitas pengelolaan margin adalah risiko kegagalan (default rate). Risiko kegagalan pada bank atas portofolio aset melebihi risiko kegagalan pada depositor untuk liabilitasnya. Porsi spread yang dibuat oleh bank adalah kompensasi bagi pengumpulan risiko dan evaluasi kredit. Depositor bersedia menerima bunga yang lebih rendah atas dana yang mereka pinjamkan kepada bank karena mereka tidak dapat mengevalusi kelayakan kredit dari peminjam akhir dari dana-dana dalam tingkah laku biaya yang efektif.
Bank dapat menyesuaikan spread melalui pengelolaan risiko kegagalan dalam portofolio kredit dan investasinya. Harapan spread yang lebih besar dapat dicapai dengan memberikan kredit berisiko tinggi dan surat berharga yang berkelas rendah. Manajemen bank harus membuat taksiran yang prudent dalam pengambilan strategi pertukaran risiko dan keuntungan. Peningkatan spread melalui pengambilan risiko menyebabkan masalah terutama pada saat ekonomi sedang memburuk.
Gap Manajement
Gap manajemen adalah strategi untuk memaksimumkan interest margin melalui siklus tingkat bunga. Strategi ini pada dasarnya meliputi penyesuaian komponen-komponen yang variabel dan yang fixed sesuai dengan fase dan siklus tingkat bunga untuk mencapai profitabilitas maksimum.
Gap didefinisikan dengan jumlah rupiah di mana variable rate assets melebihi variable rate liabilities. Gap positif bila jumlah rupiah positif, dan negatif bila jumlah rupiah negatif. Bila gap positif, bank mendukung variable rate assets dengan fixed rate liabilities. Bila gap negatif, bank mendukung fixed rate assets dengan variable rate liabilities.
Strategi dasar yang dipakai dalam manajemen gap adalah mengubah besarnya gap sesuai dengan prediksi pergerakan tingkat bunga. Positive gap yang besar adalah ideal bila tingkat bunga cenderung naik. Dengan positive gap bank akan memperoleh tingkat pendapatan yang tinggi atas asetnya, sementara aset tersebut didukung oleh dana-dana dengan tingkat bunga tetap.
Namun demikian kita harus menyadari adanya beberapa kesulitan dan masalah yang menyertai pelaksanaan strategi gapping. Pertama, adalah benar bahwa marjin dapat diperbaiki bila dapat diprediksi pergerakan tingkat bunga pasar secara tepat. Tetapi bila bank salah dalam melakukan prediksi, maka peningkatan gap dapat menurunkan marjin. Kedua, masalah yang berkaitan dengan penetapan waktu kapan perubahan besarnya gap tersebut harus dilakukan. Harus ada perkiraan jangka waktu yang tepat untuk mengubah besarnya gap, dan siklus tingkat bunga harus dalam situasi durasi yang cukup untuk memenuhi syarat perubahan.
Akhirnya gapping secara implicit menganggap bahwa bank dapat memilih gap secara efektif. Bank beroperasi di tengah-tengah lingkungan yang sangat kompetitif, dan kemampuan bank untuk membuat perubahan secara tepat dalam struktur asset/liabilitas sering dipengaruhi atau dibatasi oleh kompetisi.
ALM dalam Lingkungan Masa Kini
Manajemen portofolio asset/liabilitas yang agresif bergantung pada derajat kepastian tentang inflow dan outflow serta tingkat pendapatan atas aset dan biaya atas liabilitas. Untuk dapat menerapkan gap management bank harus mampu memprediksi flows dan rates. Bank harus secara tepat memprediksi level dana-dana fixed rate yang akan tersedia. Selain itu, untuk memaksimumkan interest margin, bank juga harus mampu memprediksi waktu pergerakan dalam tingkat bunga.
Kebutuhan kedua bagi manajemen aset/liabilitas yang agresif adalah adanya kepastian bahwa durasi siklus tinngkat bunga cukup panjang untuk menyelesaikan perubahan yang diperlukan. Bank tidak dapat secara instant mengubah komposisi portofolio aset dan liabilitas. Perubahan yang tepat dalam besaran gap memerlukan waktu beberapa bulan atau beberapa tahun untuk menyelesaikannya. Bila durasi siklus tingkat bunga tidak cukup panjang bagi bank untuk mengubah struktur aset dan liabilitasnya, dan dengan demikian juga untuk menyesuaikan posisi gap-nya, bank dapat mengalami gangguan dalam penyesuaiannya untuk memenuhi perencanaan gap dan mengakibatkan turunnya interest margin.
Ada dua faktor yang mempengaruhi perubahan, yaitu volatility tingkat bunga dan perubahan dalam lingkungan yang kompetitif. Kedua hal tersebut membuat proses manajemen aset/liaabilitas menjadi lebih sulit dan banyak persyaratannya..
Asset/Liability Management Committee (ALCO)
Bila manajemen menjalankan manajemen aset/liabilitas, ia harus menempuh tahap pertama yang penting yaitu pengakuan dan dukungan terdapat fungsi ALCO. Organisasi fungsi ALCO di bank kecil dapat terdiri dari direktur utama dan beberapa manajer kunci yang aktif dalam keputusan-keputusan kredit, investasi, dan pasar uang. Pada bank yang lebih besar, ALCO dapat terdiri dari para manajer di pos-pos utama neraca, direktur utama, kepala bagian keuangan dan akunnting, kepala divisi kredit, manajer investasi, kepala bagian deposit dan fungsi liabilitas, ekonom dan supervisor kebijakan kredit.
Tanggung jawab ALCO biasanya meliputi pemberian arahan umum mengenai penguasaan dan pengalokasian dana-dana untuk memaksimumkan pendapatan, dan memastikan permintaan dan sumber dana. Dengan demikian ALCO mempunyai akses kepada liabilitas dan strategi pricing atas pinjaman, membangun praktek penguasaan dana-dana dan pilihan untuk pengalokasian pinjaman, memantau spread, distribusi aset/liabilitas, jangka waktu, bagaimana dealing dengan secondary reserve untuk kegiatan pasar uang, me-review variasi anggaran dan, yang terpenting, adalah menyusun action plan berdasarkan sebab-sebab terjadinya variasi.
ALCO harus membangun alat perencanaan keuangan, termasuk spread management, dan analisis sensitifitas tingkat bunga. Alat-alat ini menekankan pada ukuran-ukuran kuantitatif yang mengindikasikan kondisi dari portofolio bank di masa lalu, saat ini dan keputusan-keputusan di masa yang akan datang serta dampaknya pada neraca dan pernyataan rugi/laba.
Aplikasi ALM pada Bank Islam
Sebagaimana bank konvensional, bank Syariah pun merupakan lembaga intermediasi antara penabung dan investor. Perbedaan pokok antara bank Syariah dan bank konvensional terletak pada dominasi prinsip berbagi hasil dan berbagi risiko (profit and loss sharing) yang melandasi sistem operasionalnya. Hal ini antara lain tercermin pada beberapa karakteristik berikut:
1. berbeda dengan bank konvensional, bank Islam hanya menjamin pembayaran kembali nilai nominal simpanan giro dan tabungan (wadi’ah), tetapi tidak menjamin pembayaran kembali nilai nominal dari deposito (investment deposit/mudharabah deposit). Bank Islam juga tidak menjamin keuntungan atas deposito.
2. sistem operasional bank Islam berdasarkan pada sistem equity di mana setiap modal adalah berisiko. Oleh karena itu hubungan kerja sama antara bank Islam dengan nasabahnya adalah berdasarkan prinsip berbagi hasil dan berbagi risiko (profit and loss sharing/PLS).
3. dalam melakukan kegiatan pembiayaan (financing) bank Islam menggunakan model pembiayaan Syariah (Islamic models of financing) yaitu PLS dan non-PLS. Sehubungan dengan itu bank Islam melakukan pooling dana-dana nasabah dan berkewajiban menyediakan manajemen investasi yang professional.
Berdasarkan karakteristik tersebut, maka risiko yang dihadapi oleh bank Islam lebih terfokus pada risiko likuiditas dan risiko kredit dan tidak akan pernah mengalami risiko karena fluktuasi tingkat bunga.
Likuiditas bank Syariah banyak bergantung pada:
1. tingkat kelabilan (volatility) dari simpanan (depositi) nasabah,
2. kepercayaan pada dana-dana non-PLS,
3. kompetensi teknis yang berhubungan dengan pengaturan struktur liabilitas,
4. ketersediaan aset yang siap dikonversikan menjadi kas, dan
5. akses kepada pasar antar bank dan sumber dana lainnya, termasuk fasilitas lender of last resort dari Bank Sentral.
Teknik duration gap management dapat diaplikasikan oleh bank Islam, bukan dalam rangka menghindari risiko tingkat bunga, melainkan untuk mengatur cash flow atau mengendalikan likuiditasnya.
Kualitas earning assets bank Islam akan bergantung pada beberapa hal berikut:
1. level, distribusi dan tingkat kesulitan dari aset yang diklasifikasikan,
2. level dan komposisi dari berkurangnya nilai aset,
3. kecukupan dari cadangan penilaian kembali,
4. bukti adanya kemampuan untuk mengadministrasikan dan memperoleh kembali kredit bermasalah.
Hasil akhir dari manajemen aset/liabilitas itu akan bermuara pada kemampuan untuk menutup kerugian dan penyediaan kecukupan modal, trend pendapatan yang semakin baik, kompetitif terhadap peer group-nya, dan kualitas dan komposisi pendapatan bersih (net income) yang semakin baik.
Assets/liability management bank Islam lebih banyak bertumpu pada kualitas aset, dan hal itu akan menentukan kemampuan bank untuk meningkatkan daya tariknya kepada nasabah untuk menginvestasikan dananya melalui bank tersebut, yang berarti meningkatkan kualitas pengelolaan liabilitasnya. Kemampuan manajemen untuk melaksanakan fungsinya sebagai professional investment manager akan sangat menentukan kualitas aset yang dikelolanya. Teknik fund gap management tidak relevan untuk digunakan sebagai alat manajemen aset/liabilitas bank Islam, karena bank Islam tidak berurusan dengan risiko tingkat bunga.
Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.
BalasHapusNama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.
Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.
Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.
Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut