Before U Read and Get Information From Me

Please... Give Me a Gift.
No Difficult.
No Expensive.
No More.

Give Me a Gift; "The Fatihah 4"
Okeyy.

Kamis, 14 Oktober 2010

The Paper of Moety@__"The Islamic & The Local Culture in West Borneo"

ISLAM DAN BUDAYA LOKAL DI KALIMANTAN BARAT



  1. PENDAHULUAN

Hasan Muarif Ambary menulis bahwa pengenalan dan sosialisasi Islam di Nusantara dapat dijelaskan sebagai koinsiden dengan surutnya pusat-pusat budaya dan politik kerajaan Hindu, serta didorong semakin intensifnya jalur-jalur pelayaran maritim dan perdagangan internasional jarak jauh. Pada masa proto sejarah, ketika komunitas Nusantara mencapai tingkat kemandirian kultural, berlangsung persentuhan kultur dengan India di Asia Selatan, yakni tradisi besar Hindu dan Buddha. Tradisi besar ini, seperti tampak dari penelitian-penelitian arkeologi, memberikan kontribusi kultural terhadap budaya Nusantara, khususnya melalui pengenalan dan pembauran anasir-anasir budaya seperti: 1) aksara Pallawa dan Bahasa Sanskerta; 2) pendirian bangunan-bangunan besar (keagamaan, tempat tinggal, perbentengan, dan lain-lain); 3) agama-agama Hindu dan Buddha; dan 4) konsep kerajaan dan sistem kasta.[1]
Ahmad Syafii Maarif juga menulis bahwa muncul dan berkembangnya Islam di Indonesia tidak bisa luput dari pertautan kesejarahan yang panjang bagi Ibu Pertiwi. Sebelum Islam hadir, masyarakat Nusantara telah mengenal dan menjalankan sistem budaya dan religi yang begitu kompleks dan kosmopolit. Beragam bentuk kebudayaan dan praktik keagamaan membaur menjadi warna khas bagi bangsa Khatulistiwa ini. Berangkat dari hal ini, menurutnya, maka sulit bahkan tidak mungkin kekayaan budaya lokal (indigenous culture) dicabut dari akarnya begitu saja, bahkan oleh sistem budaya, dan strategi apapun. Lebih lanjut beliau juga menegaskan bahwa Islam dengan wujud dan formasi keagamaannya pun tidak mungkin memaksakan diri untuk menolak budaya yang ada di Nusantara. Meletakkan posisi binner antara Islam dan budaya Nusantara, berarti memaksakan kehendak untuk disingkirkan oleh arus besar kelompok yang meyakini akan terciptanya akulturasi budaya Islam-Indonesia. Peran penting kesejarahan Islam pada awal perkembangannya di Indonesia dimainkan secara apik oleh para wali dan ulama, sehingga sifat Islam yang akomodatif tersebut dapat diterima dengan mudah oleh masyarakat setempat.[2]
Begitu juga pergumulan Islam dan budaya di Kalimantan Barat akan selalu menjadi poin sejarah dalam meninjau dan merekonstruksi pengamalan ajaran Islam dan pelestarian budaya itu sendiri. Untuk itu dalam makalah ini, secara khusus penulis akan memaparkan sekilas tentang Islam dan Budaya Lokal yang ada di Kalimantan Barat sebagai salah satu kawasan yang ada di Borneo ini yang juga sudah tersentuh dengan dunia Islam.

  1. SEKILAS PROFIL KALIMANTAN BARAT
Secara geografis, Kalimantan Barat di sebelah Barat dibatasi dengan Selat Karimata, sebelah Utara dibatasi dengan pegunungan Kapuas Hulu, sebelah Selatan dibatasi dengan Kalimantan Tengah, dan sebelah Timur dibatasi dengan pegunungan Muller, Schwaner, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.[3] Kalimantan Barat mempunyai 1 Kotamadya Pontianak dan 6 kabupaten yang terdiri dari Kabupaten Sanbas, Kabupaten Pontianak, Kabupaten Ketapang, Kabupaten Sintang, Kabupaten Kapuas Hulu, dan Kabupaten Sanggau. Selain itu, Kalimantan Barat juga meliputi pulau-pulau kecil di luar daratan Kalimantan; Kepulauan Karimata, Pulau Maya, Pulau Teluk Air, dan pulau-pulau kecil di pesisir Barat.[4] Kawasan yang satu ini banyak memiliki sungai-sungai, yang dalam hal ini ternyata mempunyai pengaruh besar tentang kehidupan penduduk. Sungai merupakan urat nadi penghubung antara daerah pantai dengan pedalaman. Walaupun demikian, di Kalimantan Barat juga banyak terdapat jaring-jaring jalan raya.[5]
Kalimantan Barat yang beribukota Pontianak ini menjadi pusat kesibukan ekonomi maupun tempat sebuah universitas yang cukup besar dan juga gedung olahraga yang terdapat di dalam sebuah gedung yang besar. Beberapa kanal menyilangi kota ini dan salah satu dari sungai-sungai yang terpanjang di Indonesia adalah sungai Kapuas (panjangnya 1143 km), yang juga menyediakan hubungan komunikasi yeng berhubungan dengan sejarah dan sangat berarti, seperti Jawa dan Sumatra. Kalimantan Barat merupakan salah satu dari persimpangan kebudayaan yang penting.[6]
Kalimantan Barat meliputi daerah lebih dari 146.807 kilometer persegi, yang kaya akan berbagai macam barang tambang dan batu-batu berharga, dan sisa-sisa yang sebagian besar belum diselidiki (digali). Dibeberapa daerah pantai terutama di tanah yang berawa dengan lebih 100 sungai yang mengikis daratan. Di bahagian Timur propinsi yang bergunung-gunung, yang letaknya jauh dari kota dan daratan, terdapat beberapa perkampungan suku Dayak.[7]
Diperkirakan daerah Kalimantan Barat sudah dihuni manusia sejak 1.500 SM. Pengaruh agama Hindu sudah masuk ke daerah ini pada tahun 977 melalui kerajaan tertua di daerah Kabupaten Ketapang, yaitu kerajaan Tanjung Pura. Pada zaman itu juga didapat bukti bahwa pada abad ke-12 sampai ke-14, telah terjalin hubungan antara kerajaan Tanjung Pura dengan kerajaan Majapahit. Sementara itu pengaruh Cina bahkan sudah ada sejak abad ke-5 (ekspedisi Cheng Ho). Karena itulah di daerah ini banyak ditemukan masyarakat etnis Cina serta benda-benda keramik dan benda-benda budaya lainnya yang berasal dari Cina yang sampai sekarang dipergunakan sebagai alat-alat tertentu dalam pelaksanaan adat.[8]
Kalimantan Barat sangat mudah dicapai dari Jakarta atau Singapura dengan menggunakan pesawat, kapal dan juga perjalanan melalui darat yang jarang menyediakan kesempatan untuk melihat bagian dalam dari salah satu pulau yang terkaya dan terbesar di dunia.[9]
Perkembangan ekonomi di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik membuka peluang besar bagi Kalimantan Barat untuk mengoptimalkan potensi ekonominya. Tinggal bagaimana membangun jaringan infrastruktur, termasuk membangun sarana dan prasarana transportasi, jalan, dan jaringan komunikasi yang baik di Kalimantan Barat. Semua itu akan membantu pengembangan pusat-pusat ekonomi di Kalimantan Barat, mengingat daerahnya memiliki posisi geografis yang strategis untuk memperluas jaringan pemasaran dan perdagangan antarpropinsi serta internasional.
Selain posisi geografisnya yang menguntungkan, adanya jalur transportasi darat dan pelayaran internasional melalui wilayah ini merupakan peluang yang cukup baik untuk membangun potensi ekonomi lewat kerjasama internasional dengan Malaysia dan Brunei Darussalam. Kerjasama sosek-Malindo, yang sudah dimulai sejak tahun 1985, juga merupakan peluang yang dapat dimanfaatkan Kalimantan Barat. Semua itu masih perlu dikembangkan lebih lanjut dengan memanfaatkan keunggulan komparatif yang sudah dimiliki Kalimantan Barat. Hal itu akan memacu pertumbuhan Kalimantan Barat menjadi salah satu pusat ekonomi yang handal di kawasan Kalimantan. Dengan kata lain, sektor pariwisata di Kalimantan Barat harus lebih ditata dan dikembangkan sedemikian rupa, agar dapat menghasilkan devisa negara dan mendongkrak retribusi daerah secara lebih optimal.[10]

  1. ISLAM DAN BUDAYA LOKAL DI KALIMANTAN BARAT
    1. Sekilas Mengenai Kedatangan Islam di Kalimantan Barat
Berkenaan dengan Islam yang ada di Kalimantan Barat, sekilas dapat diketahui dari data yang amat relatif terbatas, bahwa seperti pada umumnya di daerah-daerah lain, Islam masuk ke kawasan Kalimantan yang satu ini sekitar abad ke-15.[11] Islam disebarkan dengan metode-metode yang hampir tidak berbeda dengan metode-metode para juru dakwah Islam di kawasan lain; dengan cara masuk ke keraton-keraton kerajaan, mendekati sang raja atau pejabat kerajaan, mempersunting para putri istana, atau menjadi penasehat kerajaan yang berpengaruh; berdakwah sambil berdagang; dan yang tak kalah penting adalah pendekatan kultural yang dengan ini para ulama yang menyebarkan Islam begitu pandai menyesuaikan diri dengan lingkungan dan budaya setempat. Sehingga metode-metode seperti itu disimpulkan sebagai metode yang cukup membuat rakyat Indonesia mudah menerima kehadiran Islam dalam sisi-sisi kehidupan mereka. Begitu juga ketika Islam datang dengan gaya metode seperti itu di Kalimantan Barat, membuat kawasan ini juga menjadi kawasan yang tidak menolak Islam bisa hidup di tengah-tengah kehidupan rakyat Kalimantan Barat itu sendiri.
Perkembangan agama Islam di Kalimantan Barat sejalan dengan perkembangan berbagai kerajaan. Penyebaran Islam itu terjadi sekitar tahun 1550-1800 M. Dalam perkembangan Islam yang begitu merakyat, sangat besar peranan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Islam sebagai pusat pengembangan Islam.[12] Kerajaan yang sebelumnya beragama Hindu akhirnnya berubah menjadi kerajaan Islam setelah mendapat pengaruh ajaran Islam. Diantaranya adalah kerajaan Tanjung Pura, Sukadana, Simpang, Mempawah, Sambas, Landak, Tayan, Meliau, Sekadau, Sintang, dan Pontianak.[13]
Agama Hindu tiba di Kalimantan Barat kira-kira pada tahun 400 dan bukti dari peradaban kedua agama yaitu Hindu dan Buddha di daerah tersebut telah ditemukan. Beberapa ukiran batu dan keramik bisa di usut sepanjang abad ke lima, namun kemudian pengaruh Islam telah menjadi pengaruh yang sangat kuat didaerah tersebut.
Hal tersebut juga diketahui kemudian bahwa kedatangan Islam di Kalimantan Barat terjadi kira-kira bersamaan dengan munculnya Kerajaan Islam pertama di Aceh pada abad ke limabelas. Islam dengan cepat diterima dan berbagai kerajaan tumbuh dan berkembang dengan kekuatan dan ketangguhannya, terutama dikarenakan Kalimantan memiliki tempat yang strategis disepanjang rute perdagangan ke China dan Philipina.[14]

2.      Sekilas Tentang Budaya Lokal di Kalimantan Barat
Diterimanya Islam di kawasan Kalimantan Barat sebagai salah satu agama masyarakat akhirnya juga tidak luput, sekali lagi; hampir sama saja dengan diterimanya Islam di kawasan lain di tanah air, dengan yang namanya persentuhan dengan budaya lokal setempat.
Di Kalimantan Barat, penduduknya sebagian besar adalah suku Dayak yang tinggal di pedalaman, serta suku Melayu yang mendiami kota-kota tepi sungai maupun daerah pantai. Di daerah pantai sangat terasa pengaruh kebudayaan Hindu dan Arab, sedang di daerah pedalaman tetap mempertahankan kebudayaan asli. Selain itu juga ada penduduk daerah pendatang, yakni suku bangsa Bugis, Jawa, Madura, serta bangsa asing terutama Cina dan sedikit bangsa asing lainnya. Pengaruh Cina sangat besar, hal ini terlihat dari banyaknya bangunan model Cina terutama di Pontianak, Singkawang, dan Kabupaten Sambas serta pemakaian barang-barang dari Cina seperti piring-piring, guci, tempayan yang sampai sekarang dipergunakan sebagai alat dalam upacara adat.
Suku Dayak merupakan penghuni asli daerah Kalimantan Barat yang kebanyakan bermukim di pedalaman. Suku Dayak terbagi menjadi sub-sub suku antara lain Suku Dayak Kendayan, Punan, Taman, Iban, Otdanum, dan sebagainya. Dimana antara sub-sub suku tadi dipisahkan oleh keadaan fisik alam yang sulit dijangkau oleh pendatang dari luar, tetapi bagi suku Dayak hal itu bukanlah merupakan suatu rintangan. Antara subsuku yang satu dengan yang lainnya terdapat perbedaan yang mencolok dalam bahasa, tetapi persamaannya juga tampak jelas, misalnya percaya kepada mimpi, bunyi burung tertentu, berpantang kematian, percaya pada ular yang melintasi jalanan, menghormati leluhur yang telah mendahului dan macam-macam kuasa gaib.[15]
Beberapa suku Dayak memiliki tradisi kuno dan kepercayaan yang diekspresikan dalam berbagai macam bentuk; kuping yang panjang dengan anting-anting yang berat, tato, lukisan-lukisan rumit, corak, ukiran dan tarian-tarian yang indah untuk penghormatan, kepahlawanan, dan pengawetan.[16] Hal tersebut inilah yang kemudian jika pada perkembangannya sebagian mereka yang masuk Islam akan terlihat masih ada nuansa magis atau simbol-simbol kepercayaan mereka yang kadang-kadang tetap masih mewarnai praktik ritualitas agama baru mereka, yaitu Islam.
Umumnya di kawasan Kalimantan, bahkan hampir seluruh kawasan bumi pertiwi ini, khususnya juga di Kalimantan Barat, ritualisme masih kental mewarnai kehidupan masyarakat melalui berbagai selamatan, sesajian, dan penghormatan terhadap makhluk-makhluk halus. Di Kalimantan Barat, tempat-tempat keramat masih terdapat di mana-mana, makam para pemimpin (sultan) dianggap mempunyai kekeramatan dan dihormati. Hantu dan makhlus halus masih diyakini, bahwa mereka bertahta di suatu tempat. Makhluk halus tersebut bersifat jahat dan selalu mencelakakan manusia, sehingga untuk menghindarinya harus diadakan selamatan maupun sesajian sebagai sarana penghormatan. Ini terlihat diantaranya pada selamatan dalam kematian; yang diadakan pada hari ke-3, 7, 15, 40, 100, dan setiap ulang tahunnya, Tepung tawar; untuk bertujuan melepaskan diri dari gangguan tertentu di luar kekuatan manusia, terutama untuk bayi dan anak-anak dan benda-benda tertentu yang ingin dilindungi,[17] menyemah (pemberian sesajian pada benda-benda tertentu akibat melanggar larangan), dan komponen (pantangan bagi masyarakat yang dapat mengakibatkan datangnya musibah atau kesialan akibat menolak makanan yang ditawarkan atau karena tidak terpenuhinya untuk makanan sesuatu yang diinginkan).[18]
Masyarakat Kalimantan Barat juga mempunyai ciri khas dalam kebudayaan yang memberi warna keanekaragaman budaya Indonesia. Walaupun pengaruh luar telah banyak merasuk ke daerah ini, tetapi identitas kebudayaan daerah ini tetap menunjukkan ketradisionalan mereka yang tercermin dalam bentuk kebudayaan seperti berikut:
a.             Kesenian; dalam bidang kesenian, Kalimantan Barat selalu berhubungan dengan upacara-upacara adat serta kepercayaan mereka. Dalam bentuk berupa seni tari, daerah ini mempunyai dua corak yang berbeda, yakni antara seni tari Melayu seperti Tari Japin dan Tari Tandak Sambas dan seni tari Dayak seperti Tari Suno, Tari Mandau Talabang, & Tari Monong. Di dalam seni sastra pada suku Melayu berupa cerita-cerita rakyat seperti Batu Betarup, Batu Bejamban, Putri Junjung Buih, Dara Muning, dan sebagainya. Di bidang seni rupa terlihat pada kerajinan seperti tenunan Sambas, anyaman rotan dari suku Dayak sangat dikenal dan mendapat pasaran luas.
b.            Arsitektur; Daerah Kalimantan Barat mempunyai dua bentuk bangunan adat, yaitu dibedakan antara bangunan suku asli dengan bangunan suku pendatang. Istana Kesultanan Pontianak yang dikenal dengan nama Istana Kadariyah merupakan salah satu bangunan suku pendatang, yaitu suku bangsa Melayu. Ragam hiasan pada bangunan istana terdapat pada bagian atas dinding sebelum memasuki ruang tengah yang berupa hiasan mahkota, bulan dan bintang serta tulisan Arab. Ini menyatakan adanya pengaruh dari luar; perkembangan agama Islam. Berbeda dengan Rumah Betang atau Rumah Panjang, sebagai rumah adat suku-suku Dayak yang ditinggali oleh berpuluh-puluh keluarga dan dengan sendirinya terdiri dari ratusan jiwa. Panjang sebuah betang dapat sekitar 100-200 meter. Pada rumah betang selalu diberi hiasan yang berkaitan erat dengan kepercayaan kepada roh-roh leluhur, misalnya tengkorak, bentuk-bentuk burung, dan ular yang dilukis secara alam.
c.             Pakaian; dalam hal berpakaian masyarakat ini biasanya mengenakan pakaian adat dalam upacara-upacara. Pakaian yang dikenakan dibedakan atas pakaian yang diperuntukkan oleh kaum pria dan wanita. Untuk kaum pria lazimnya terdiri atas tutup kepala yang berhiaskan bulu burung enggang, baju tanpa lengan (rompi), celana panjang sebatas lutut dan kain yang berfungsi sebagai ikat pinggang. Sedangkan pakaian yang dipakai wanita terdiri atas kain yang menutupi dada, serta lapisan-lapisan kain yang menutupi dada, serta lapisan-lapisan kain yang berfungsi sebagai stagen dari bahan kain yang ditenun. Perhiasan yang dikenakan berupa bulu enggang sebagai perhiasan kepala, kalung manik-manik dan gelang di tangan.
d.            Senjata Tradisional; Mandau, adalah salah satu cirri khas orang Kalimantan Barat. Senjata tradisional dari suku Dayak ini berbentuk panjang yang terbuat dari bahan pilihan yang diambil dari batu gunung yang mengandung besi. Dengan Mandau ini nenek moyang suku Dayak mempertahankan hidupnya dari serangan musuh maupun binatang buas. Selain Mandau juga dikenal senjata tradisional lainnya, seperti sumpitan, tombak, sabit, dan sebagainya.[19]

3.      Persentuhan Ajaran Islam dengan Budaya Lokal di Kalimantan Barat
Propinsi Kalimantan Barat mempunyai keunikan tersendiri terhadap proses alkurturasi atau perpindahan suatu religious culture bagi masyarakat setempat. Dalam hal ini proses tersebut sangat berkaitan erat dengan suku terbesar di Kalimantan Barat yaitu Dayak, Melayu, dan Tiongkok. Pada mulanya Bangsa Dayak mendiami pesisir Kalimantan Barat, hidup dengan tradisi dan budayanya masing-masing, kemudian datanglah pedagang dari Gujarat beragama Islam (Arab Melayu) dengan tujuan jual-beli barang-barang dari dan kepada masyarakat Dayak, kemudian karena seringnya mereka berinteraksi, bolak-balik mengambil dan mengantar barang-barang dagangan dari dan ke Selat Malaka (merupakan sentral dagang di masa lalu), menyebabkan mereka berkeinginan menetap di daerah baru yang mempunyai potensi dagang yang besar bagi keuntungan mereka.
Karena sering terjadinya proses transaksi jual beli barang kebutuhan, dan interaksi kultural, menyebabkan pesisir Kalimantan Barat menjadi ramai, di kunjungi masyarakat lokal (Dayak) dan pedagang Arab Melayu dari Selat Malaka. Di masa itu sistem religi masyarakat Dayak mulai terpengaruh dan dipengaruhi oleh para pedagang Melayu yang telah mengenal pengetahuan, pendidikan dan agama Islam dari luar Kalimantan.
Karena hubungan yang harmonis terjalin baik, maka masyarakat lokal atau Dayak, ada yang menaruh simpati kepada pedagang Gujarat tersebut yang lambat laun terpengaruh, maka agama Islam diterima dan dikenal pada tahun 1550 M di Kerajaan Tanjung Pura pada pemerintahan Giri Kusuma yang merupakan Kerajan Melayu dan lambat laun mulai menyebar di Kalimantan Barat.
Bagi mereka yang masih memegang teguh kepercayaan nenek moyang dan budaya aslinya nya, mereka memisahkan diri masuk semakin jauh kepedalaman. Pada umumnya masyarakat Dayak yang pindah agama Islam di Kalimantan Barat dianggap oleh suku Dayak sama dengan suku Melayu. Dan sesuai perkembangannya maka masuklah para misionaris dan misi kristiani/nasrani ke pedalaman. Maka hal inilah dianggap agama Islam lebih identik dengan suku Melayu dan agama Kristiani atau kepercayaan dinamisme lebih identik dengan suku Dayak. Sehingga tidak heran kalau Kalimantan Barat (khususnya Kab. Ketapang), didaerah pesisir banyak dijumpai masjid-masjid, sedangkan di pedalaman banyak dijumpai gereja-gereja.[20]
Dalam kehidupan sehari-hari, kehidupan beragama penduduk pendatang, khususnya Melayu berjalan sesuai dengan Islam. Hal ini terlihat dengan banyaknya jemaah pada setiap hari Jumat di mesjid-mesjid. Sosialisasi ajaran Islam diajarkan sejak dini kepada anak-anak melalui pelajaran mengaji dan salat yang diselenggarakan setiap hari di rumah-rumah guru mengaji. Dakwah keagamaan juga sering dilakukan terutama pada hari-hari besar Islam. Setiap penyelenggaraan upacara selalu diwarnai dengan sifat keislaman sekurang-kurangnya dengan pembacaan doa oleh tokoh-tokoh agama.[21]
Masyarakat Kalimantan Barat, walaupun sudah menganut ajaran agama Islam atau lainnya masih juga melakukan upacara-upacara adat. Upacara-upacara yang banyak dilaksanakan adalah upacara yang berkaitan dengan laingkaran/daur hidup menusia yang dimulai dari kelahiran, perkawinan, dan kemudian kematian. Selain itu juga dilaksanakan upacara lain yang berhubungan dengan aktifitas kegiatan mereka sehari-hari. Semuanya sarat dengan muatan ajaran Islam sekaligus tidak lepas dengan muatan budaya setempat dan hal ini mirip dengan akulturasi yang terjadi di Kalimantan Selatan dan kawasan Kalimantan yang lain.[22]
Adanya persentuhan yang terjadi di Kalimantan Barat dengan aneka unsur budaya asing itulah yang memperkaya masyarakat Kalimantan Barat. Agama-agama besar yaitu Islam, Protestan, Katolik, Hindu, dan Buddha sama-sama berkembang disini. Bersamaan itu wajah budaya Arab, Cina, dan Belanda ikut mewarnai kehidupan bermasyarakat Kalimantan Barat itu sendiri.
Bila komposisi keagamaan dimasyarakat ditinjau, tampak bahwa Islam adalah agama mayoritas, yaitu sebesar 63,03%, lalu disusul Katolik sebesar 22,59%, Protestan sebesar 11,55%, dan lain-lainnya 2,83%. Agama Islam umumnya dianut etnis Melayu, Madura, Jawa, Minangkabau, Bugis-Makasar, Aceh, Banjar. Agama Protestan oleh suku Batak, Minahasa. Katolik dianut oleh suku asli, suku Dayak, Jawa, Batak, Cina keturunan, Flores. Sedangkan Hindu dan Budha mayoritas dianut etnis Cina.
Hampir setiap suku di Kalimantan pada dasarnya masih cukup kuat dalam melestarikan nilai-nilai social budaya daerahnya yang dianggap luhur, baik sebagai dasar ritual maupun sebagai sebuah cara hidup, way of  life. Lebih dari 300 ragam suku Dayak yang tersebar di Kalimantan masing-masing memiliki sistem sosial budaya dan bahasa sendiri-sendiri.[23]
Berkenaan dengan ajaran Islam terkait dengan yang namanya budaya lokal, mengutip tulisan Khadziq, bahwa adanya interaksi antara Islam dan budaya tidaklah sepenuhnya bisa dikatakan sebagai suatu interaksi yang sesat dan menyesatkan. Ajaran Islam tidak dapat diamalkan dengan sempurna tanpa peran akal yang menjadi dasar kebudayaan. Perintah beribadah tidak akan terlaksana dengan baik tanpa sarana-prasarana yang merupakan hasil kebudayaan manusia itu sendiri. Islam dan budaya adalah dua hal yang niscaya hidup bersama tanpa pertentangan yang hal ini tentu saja selama masih dalam koridor nilai-nilai keislaman yang selalu akan menjadi pegangan bagi umat Islam di dalam mengembangkan peradabannya.[24] Begitu juga budaya lokal yang ada di Kalimantan Barat akan selalu berbenturan dengan Islam, sebagai salah satu agama besar di Kawasan ini. Hal-hal yang berkaitan dengan akidah dan amaliyah Islam harus tetap berpedoman dengan apa yang sudah digariskan tanpa harus mengikis hal-hal yang positif dari budaya setempat.

  1. PENUTUP

Demikianlah kawasan Kalimantan bisa disimpulkan sebagai kawasan yang sudah dimasuki ajaran Islam sekaligus kawasan yang juga tidak mudah melepaskan budaya yang sudah mengurat akar dalam kehidupan mereka. Begitu juga dengan kawasan Kalimantan Barat, yang mempunyai kondisi geografis dan kultural yang sangat menguntungkan dari segi pariwisata dan ekonomi dan sebagai kawasan yang mayoritas Islam akan selalu menjadi kajian yang menarik terkait dengan esensi ajaran Islam dengan akulturasi budaya setempat. Selebih dan sekurangnya penulis berharap makalah sederhana dengan literatur terbatas ini ada manfaatnya dan akan menjadi wacana baru untuk melakukan kajian yang lebih mendalam.









DAFTAR PUSTAKA

Ambary, Hasan Muarif, 2001, Menemukan Peradaban; Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.


Http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat.

Khadziq, 2009, Islam dan Budaya Lokal; Belajar Memahami Realitas Agama dalam Masyarakat, Yogyakarta: TERAS.

Maarif, Ahmad Syafii, 2007, Sublimitasi Islam di Indonesia, dalam buku M.Abdul Karim, Islam Nusantara, Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Shadily, Hasan, 1992, Ensiklopedi Indonesia, Jilid III, Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve.

Tim Penyusun Yayasan Bhakti Wawasan Indonesia, 1992, Profil Propinsi Republik Indonesia; Kalimantan Barat, Jakarta: PT. Intermasa.

Tim Penyusun Pemerintah Daerah Propinsi Tk.I Kalimantan Barat, 1991, Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat, Pontianak: Taurus.





















ISLAM DAN BUDAYA LOKAL DI KALIMANTAN BARAT

Makalah ini untuk memenuhi tugas
Mata Kuliah Islam di Kawasan Kalimantan


Dosen Pengasuh:
DR. MUJIBURRAHMAN, M.A.




















Disusun oleh

Mutia Rahmawati
0902020492




INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ANTASARI
PROGRAM PASCASARJANA
JURUSAN FILSAFAT ISLAM
KONSENTRASI ILMU TASAWUF
BANJARMASIN
2010 M/1431 H


[1]Hasan Muarif Ambary, Menemukan Peradaban; Jejak Arkeologis dan Historis Islam Indonesia, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2001), Cet. ke-2, h. 341-342.
[2]Ahmad Syafii Maarif, “Sublimitasi Islam di Indonesia”, dalam buku M.Abdul Karim, Islam Nusantara, (Yogyakarta: Pustaka Book Publisher, 2007), Cet. ke- 1, h. 5.
[3]Tim Penyusun Yayasan Bhakti Wawasan Indonesia, Profil Propinsi Republik Indonesia; Kalimantan Barat, (Jakarta: PT. Intermasa, 1992), h. 71.
[4]Lih. Hasan Shadily, Ensiklopedi Indonesia, (Jakarta: PT. Ichtiar Baru-Van Hoeve, 1992), Jilid III, h. 1630.
[5]Tim Penyusun Yayasan Bhakti Wawasan Indonesia, loc.cit.
[7]Ibid.
[8]Tim Penyusun Yayasan Bhakti Wawasan Indonesia, op.cit., h.72.
[10]Http://id.wikipedia.org/wiki/Kalimantan_Barat.
[11]Tim Penyusun Yayasan Bhakti Wawasan Indonesia, loc.cit.
[12]Tim Penyusun Pemerintah Daerah Propinsi Tk.I Kalimantan Barat, Sejarah Perjuangan Kalimantan Barat, (Pontianak: Taurus, 1991), h. 9.
[13]Tim Penyusun Yayasan Bhakti Wawasan Indonesia, loc.cit.
[15]Tim Penyusun Yayasan Bhakti Wawasan Indonesia, op.cit., h. 72-73.
[17]Tim Penyusun Yayasan Bhakti Wawasan Indonesia, loc.cit.Hal ini hampir serupa dengan apa yang diyakini dan yang dilakukan oleh masyarakat Banjar dan berangkali juga kawasan Kalimantan lainnya sebagai suatu tradisi sekaligus yang menjadi darah daging kepercayaan masyarakat yang mungkin saja akan selalu bertahan di abad yang semakin maju sekalipun.
[18]Ibid.
[19]Ibid., h. 77-80.
[21]Tim Penyusun Yayasan Bhakti Wawasan Indonesia, op.cit., h. 74-75.
[22]Ibid., h. 80.
[23]Ibid., h. 314-315.
[24]Khadziq, Islam dan Budaya Lokal; Belajar Memahami Realitas Agama dalam Masyarakat, (Yogyakarta: TERAS, 2009), Cet. ke-1, h. 57-58.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar